Ekonomi Kalsel Tumbuh Solid, Belanja Negara dan APBD Awal 2026 Tunjukkan Kinerja Positif

 


SOALKALSEL.COM, BANJARMASIN –
Kondisi ekonomi dan fiskal di Provinsi Kalimantan Selatan menunjukkan performa positif sejak awal 2026.


Pertumbuhan ekonomi yang melampaui rata-rata nasional serta pengelolaan anggaran yang mulai berjalan efektif menjadi penopang utama terjaganya momentum pembangunan daerah.

Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan Provinsi Kalimantan Selatan, Catur Ariyanto Widodo, mengatakan perekonomian daerah masih menunjukkan kinerja yang solid di tengah dinamika ekonomi pada awal tahun.

“Pertumbuhan ekonomi Kalimantan Selatan pada Triwulan IV 2025 mencapai 5,46 persen (yoy) atau 5,22 persen secara kumulatif. Capaian ini menempatkan Kalsel sebagai yang tertinggi ketiga di regional Kalimantan, menunjukkan fondasi ekonomi daerah masih cukup kuat,” ujar Catur di Banjarmasin, Senin (30/3/2026).

Dari sisi fiskal, realisasi Belanja Negara hingga Februari 2026 tercatat mencapai Rp4,55 triliun atau sekitar 15,25 persen dari total pagu sebesar Rp29,81 triliun. Sebagian besar anggaran tersebut dialokasikan untuk penyaluran Transfer ke Daerah (TKD) yang mencapai Rp3,69 triliun.

Sementara itu, kinerja APBD di awal tahun juga menunjukkan tren positif dengan mencatatkan surplus sebesar Rp1,87 triliun. Kondisi ini dinilai mencerminkan ruang fiskal yang cukup sehat untuk mendukung berbagai program pembangunan di daerah.

Catur menjelaskan bahwa perekonomian Kalsel tetap resilien di tengah fluktuasi global. Hingga Februari 2026, neraca perdagangan daerah masih mencatatkan surplus sebesar 752,34 juta dolar AS, meskipun mengalami kontraksi sekitar 20,01 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.


“Surplus tersebut ditopang oleh ekspor yang mencapai 884,41 juta dolar AS, walaupun terjadi penurunan volume pada komoditas utama seperti batu bara dan CPO. Di sisi lain, impor meningkat menjadi 132,07 juta dolar AS yang dipengaruhi oleh kenaikan impor minyak petroleum,” jelasnya.


Di sisi lain, tekanan inflasi di Kalimantan Selatan tercatat meningkat. Pada Februari 2026, inflasi mencapai 5,97 persen secara tahunan (yoy), lebih tinggi dibandingkan tingkat nasional yang berada di angka 4,76 persen. Secara bulanan, inflasi Kalsel tercatat sebesar 0,86 persen.


Menurut Catur, kenaikan inflasi terutama dipicu oleh tarif listrik, emas perhiasan, dan beras. Sementara secara bulanan, komoditas seperti emas perhiasan, daging ayam ras, dan ikan nila menjadi penyumbang utama kenaikan harga.


Meski demikian, berbagai langkah pengendalian inflasi terus dilakukan oleh Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), salah satunya melalui operasi pasar murah yang telah menyalurkan sekitar 13,20 ribu ton beras SPHP serta pemantauan stok pangan menjelang Ramadan.


“Upaya ini penting untuk menjaga stabilitas harga dan memastikan ketersediaan bahan pokok di pasar-pasar utama seperti Pasar Sentra Antasari dan Pasar Beras Muara Klayan,” tutupnya.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama