SOALKALSEL.COM, BANJARMASIN – Sebanyak 40 peserta dari kabupaten/kota se-Kalimantan Selatan mengikuti pelatihan sembelih halal yang digelar di Aula Kantor Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Kalimantan Selatan, Sabtu (2/5/2026).
Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pemahaman dan keterampilan juru sembelih agar sesuai dengan syariat Islam sekaligus memenuhi standar kesejahteraan hewan.
Pelatihan diselenggarakan oleh Jalal Banua Indonesia bekerja sama dengan MUI Kalsel, dengan menghadirkan materi komprehensif mulai dari fiqih sembelih, kesejahteraan hewan kurban, teknik penyembelihan, hingga teknik mengasah pisau.
Pembina Jalal Banua Indonesia yang juga Sekretaris Umum MUI Kalsel, Nasrullah AR, menegaskan bahwa pemahaman tata cara penyembelihan yang benar merupakan aspek mendasar dalam menjamin kehalalan daging.
“Yang paling substansial adalah bagaimana proses penyembelihan dilakukan sesuai tuntunan syariat. Jika tidak memenuhi ketentuan, seperti tidak menyebut nama Allah, maka hasil sembelihan bisa menjadi tidak halal,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa secara prinsip syariat tidak berubah, namun praktik di lapangan menyesuaikan regulasi pemerintah, seperti pelaksanaan penyembelihan di Rumah Potong Hewan (RPH) atau Rumah Potong Hewan Terpadu (RTH).
Meski demikian, penyembelihan di lingkungan masyarakat tetap dimungkinkan, dengan syarat dilakukan oleh juru sembelih yang memahami aturan dan syariat.
Menurutnya, keberadaan juru sembelih terlatih sangat penting untuk memastikan daging yang dihasilkan tidak hanya halal, tetapi juga aman, higienis, dan berkualitas.
“Peserta pelatihan diharapkan mampu menerapkan teknik yang benar, sehingga daging yang dihasilkan lebih empuk, tidak berbau, dan layak konsumsi,” katanya.
Sementara itu, Ketua Jalal Banua Indonesia, Muhammad Yusrin, menyebut pelatihan ini dirancang untuk menjawab kebutuhan masyarakat terhadap juru sembelih yang kompeten, khususnya menjelang momentum hari besar keagamaan.
Ia menjelaskan, pelatihan mencakup empat materi utama, yakni fiqih sembelih untuk memastikan kehalalan, kesejahteraan hewan agar proses dilakukan secara ihsan, teknik penyembelihan yang tepat, serta teknik mengasah pisau sesuai standar.
“Kesejahteraan hewan menjadi perhatian penting, termasuk bagaimana perlakuan sebelum disembelih. Ini berdampak langsung pada kualitas daging,” jelasnya.
Yusrin menambahkan, praktik penyembelihan yang tidak tepat masih kerap ditemukan di lapangan dan berpotensi menurunkan kualitas daging, bahkan membuatnya tidak layak konsumsi.
“Melalui pelatihan ini, kami berharap peserta dapat menjadi juru sembelih profesional di daerah masing-masing, sekaligus mampu mengedukasi masyarakat tentang pentingnya penyembelihan sesuai syariat dan standar kesehatan,” pungkasnya.

Posting Komentar