HIV Tak Lagi Identik Usia Dewasa, Era Media Sosial Bawa Tantangan Baru Kesehatan Seksual

 


BANJARMASIN, SOALKALSEL.COM – HIV selama ini kerap dipandang sebagai persoalan kesehatan yang lebih banyak berkaitan dengan kelompok usia dewasa. 


Namun, perkembangan kasus menunjukkan tantangan tersebut kini juga menyentuh kelompok usia yang jauh lebih muda.


Pergeseran tersebut menjadi perhatian Dr. dr. Vina Dwiana Savitri, Sp.D.V.E, FINSDV, FAAD, dalam kegiatan edukasi Kesehatan Seksual di Era Aplikasi/Media Sosial Berupa Chat yang Berisiko Penularan HIV/IMS di Gedung FISIP Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Banjarmasin, Sabtu (12/9/2026).


Dr. Vina mengungkapkan, dahulu kasus HIV lebih banyak ditemukan pada kelompok usia sekitar 30-an. Namun, saat ini infeksi HIV sudah ditemukan pada usia yang jauh lebih muda.


Bahkan, menurutnya, terdapat kasus HIV pada anak usia sekitar 13 tahun.


Pergeseran tersebut menjadi alarm bahwa persoalan HIV tidak lagi bisa dibicarakan hanya dalam konteks kelompok usia dewasa. Edukasi kesehatan seksual perlu menjangkau generasi yang lebih muda, terutama mereka yang tumbuh di tengah perkembangan teknologi dan media sosial.


Perkembangan aplikasi percakapan dan media sosial telah mengubah cara anak muda berkenalan dan membangun hubungan.


Jika dahulu pertemanan dan relasi lebih banyak terbentuk melalui lingkungan sekolah, kampus, pekerjaan atau komunitas, kini seseorang dapat mengenal orang baru hanya melalui layar ponsel.


Percakapan dapat berlangsung secara privat dan intensif. Dari sekadar bertukar pesan, hubungan kemudian dapat berkembang menjadi kedekatan dan berlanjut pada pertemuan secara langsung.


Menurut dr. Vina, perubahan pola interaksi tersebut perlu dibarengi pemahaman mengenai kesehatan seksual.


Pasalnya, seseorang yang dikenal melalui aplikasi belum tentu diketahui secara utuh latar belakang maupun kondisi kesehatannya. Ketika hubungan digital berlanjut ke dunia nyata, keputusan yang diambil tanpa pemahaman mengenai risiko dapat membawa konsekuensi terhadap kesehatan.


Namun, penggunaan aplikasi itu sendiri bukanlah penyebab HIV. Persoalan yang perlu diperhatikan adalah perilaku berisiko yang dapat terjadi setelah hubungan terbentuk.


Kemudahan berkomunikasi melalui aplikasi terkadang membuat seseorang merasa telah mengenal lawan bicaranya dengan baik.


Padahal, kedekatan melalui percakapan tidak dapat menjadi jaminan mengenai kondisi kesehatan seksual seseorang.


HIV dan sejumlah infeksi menular seksual (IMS) juga tidak selalu menunjukkan gejala yang terlihat. Seseorang dapat tampak sehat tanpa mengetahui bahwa dirinya telah terinfeksi.


Karena itu, literasi kesehatan seksual menjadi penting bagi generasi muda.


Mereka perlu mendapatkan informasi yang benar mengenai HIV dan IMS, termasuk cara penularan, pencegahan, pentingnya menjaga kesehatan seksual serta kapan harus melakukan pemeriksaan.


Anak dan remaja membutuhkan informasi yang tepat sesuai tingkat usia dan perkembangannya. Mereka juga membutuhkan ruang yang aman untuk bertanya mengenai kesehatan tubuh, hubungan sosial dan risiko yang mungkin mereka hadapi.


Di tengah derasnya informasi dari internet, anak muda berpotensi mendapatkan informasi kesehatan seksual dari berbagai sumber yang belum tentu benar.


Karena itu, peran orang tua, sekolah, tenaga kesehatan dan lingkungan menjadi semakin penting.


Edukasi harus diberikan dengan bahasa yang tepat, berbasis pengetahuan medis dan tanpa pendekatan yang menghakimi.


Selain edukasi, deteksi dini juga menjadi bagian penting dalam menghadapi HIV dan IMS.


Dr. Vina menyampaikan bahwa pemerintah sebenarnya telah memfasilitasi masyarakat yang ingin melakukan pemeriksaan HIV dan IMS secara gratis.


Fasilitas tersebut perlu dimanfaatkan, terutama bagi masyarakat yang merasa memiliki risiko atau ingin memastikan status kesehatannya.


Pemeriksaan menjadi penting karena status HIV seseorang tidak dapat diketahui hanya dari penampilan fisik.


Semakin cepat seseorang mengetahui status kesehatannya, semakin cepat pula langkah penanganan dan pencegahan dapat dilakukan.


Di sisi lain, upaya menghadapi HIV tidak cukup hanya dengan berbicara mengenai pencegahan. Masyarakat juga perlu menghapus stigma terhadap orang dengan HIV.


Dr. Vina mengingatkan bahwa orang dengan HIV tidak seharusnya dijauhi. Mereka justru membutuhkan dukungan dan pengobatan.


Pemahaman yang benar mengenai cara penularan HIV penting agar masyarakat tidak memberikan perlakuan diskriminatif kepada orang dengan HIV.


Dengan edukasi yang tepat, akses pemeriksaan yang mudah serta dukungan terhadap mereka yang membutuhkan pengobatan, upaya penanggulangan HIV dapat dilakukan secara lebih menyeluruh.


Fenomena tersebut sekaligus menunjukkan bahwa perubahan teknologi membawa tantangan baru bagi dunia kesehatan.


HIV kini tidak lagi dapat dipandang semata sebagai persoalan orang dewasa. Di era ketika sebuah relasi dapat dimulai dari satu pesan di layar ponsel, literasi kesehatan seksual menjadi bekal penting agar generasi muda mampu menggunakan teknologi dengan bijak sekaligus menjaga kesehatan dan keselamatan dirinya. (nanang)

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama