Menteri LH: Bali Jadi Etalase Indonesia dalam Pengelolaan Sampah Nasional

 


SOALKALSEL.COM, JAKARTA - Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) Hanif Faisol Nurofiq menegaskan bahwa Bali memiliki peran penting dalam transformasi pengelolaan sampah nasional.


Hal tersebut disampaikannya saat mengikuti aksi bersih pantai di Jimbaran, Kabupaten Badung.


Menurut Hanif, kebersihan kawasan pesisir Bali bukan hanya berkaitan dengan lingkungan, tetapi juga menyangkut citra Indonesia di mata dunia.


Sebagai destinasi pariwisata internasional, kondisi pantai di Bali mencerminkan wajah Indonesia di hadapan wisatawan mancanegara.


“Bali adalah etalase Indonesia, dan pantai-pantai ini mencerminkan wajah bangsa kita. Ketika pantai bersih, Indonesia dihormati sebagai negara yang peduli lingkungan. Namun jika tercemar sampah, reputasi kita juga ikut tercoreng,” tegas Hanif.


Ia mengingatkan bahwa Bali saat ini menghadapi persoalan darurat sampah yang membutuhkan penanganan serius.


Pemerintah menargetkan tingkat pengelolaan sampah nasional mencapai 63,41 persen pada tahun 2026, sehingga daerah strategis seperti Bali perlu mempercepat langkah-langkah konkret dalam pengelolaannya.


Hanif juga menyoroti proyeksi timbulan sampah nasional yang diperkirakan mencapai 146.780 ton per hari pada 2029.


Karena itu, penguatan sistem pengelolaan sampah harus dimulai dari sumbernya, terutama di tingkat rumah tangga dan kawasan wisata.


“Bali harus mempercepat pemilahan sampah di rumah tangga, misalnya melalui komposter atau teknologi pengolahan modern. Selain itu, perlu memperluas jaringan bank sampah dan memastikan kawasan wisata seperti hotel, restoran, serta kafe memiliki sistem pemilahan yang disiplin agar sampah tidak membebani TPA dan mencemari lingkungan,” ujarnya.


Selain mengikuti aksi bersih pantai, Menteri Hanif juga meninjau sejumlah lokasi pengelolaan sampah berbasis sumber di Bali.


Beberapa lokasi yang dikunjungi antara lain Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Tahura 1 di Denpasar, Desa Kesiman Petilan di Denpasar, Desa Bongkasa Pertiwi di Badung, serta Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS 3R) Pudak Mesari di Darmasaba, Badung.


Di lokasi-lokasi tersebut, Hanif melihat langsung praktik pemilahan sampah yang dilakukan di tingkat rumah tangga dan komunitas. Meski Bali telah menunjukkan sejumlah kemajuan dalam pengelolaan sampah, ia menilai masih terdapat berbagai tantangan yang perlu segera diselesaikan.


Hanif juga mengapresiasi Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH) yang telah memberikan dukungan berupa alat wood chipper kepada Pemerintah Kabupaten Badung untuk memperkuat pengelolaan sampah di kawasan pariwisata.


“Saya berharap dukungan ini dapat meningkatkan kapasitas daerah dalam menyelesaikan persoalan sampah, sehingga masalah sampah di Bali bisa ditangani secara lebih cepat,” katanya.


Melalui kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dunia usaha, dan masyarakat, Bali diharapkan dapat menjadi model pengelolaan sampah berkelanjutan di Indonesia sekaligus menjaga kelestarian ekosistem pesisir.


Upaya ini juga sejalan dengan komitmen pemerintah dalam gerakan Indonesia Aman, Sehat, Resik, dan Indah (ASRI).

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama